14
Jun
11

SATU JIWA DALAM RAGA YANG BERBEDA

Ketika Kisah Cinta Menembus Batasan Jarak

Santon Tekege, seminaris angkatan pertama KPA Nabire sekarang Frater Diosesan yang menjalani TOP, Tahun Orientasi Pastoral di Bomomani suatu ketika bertanya pada saya: “Bagaimana Pater bisa membuat banyak hal di Bomomani, bagaimana Pater bisa mencari orang-orang membantu pembangunan di Bomomani?” Suatu pertanyaan yang menarik, dan mungkin dilatari pikiran bahwa dana dari Jakarta mengalir deras ke suatu kampung terpencil di pedalaman Papua ini. Jawaban saya singkat saja waktu itu: “Pertama, saya percaya hanya orang biasa yang mengira ada sesuatu yang tidak mungkin; kedua, saya belajar dan bertanya pada orang yang lebih dulu berkarya di tempat ini; ketiga, saya membangun persahabatan dan pengharapan dengan orang-orang yang punya hati pada Papua.”

Jalan Salib di depan gereja baru Bomomani

Dari Pertanyaan Seorang Frater

Saya menulis kisah ini dari pertanyaan seorang frater, lima belas tingkat di bawah saya, yang sebentar lagi 9 tahun menjadi imam. Namun kehadiran Fr. Santon di Bomomani dan angkatannya di beberapa wilayah misi pedalaman Keuskupan Timika untuk menjalani TOP, saya kira bukan suatu hal yang biasa-biasa saja walau kelihatannya demikian. TOPer tahun ini adalah buah kegigihan seorang Yesuit bernama Yusuf Suharyoso, yang nekat mendirikan KPA di Nabire di sela-sela kesibukan dan (saya tahu) kebingungannya menyelesaikan gereja paroki Kristus Sahabat Kita, Bukit Meriam – Nabire. Dan dia tidak mungkin sendirian banting tulang di situ, (saya tahu) ada Sr. Juliva SMSJ mengajar di seminari KPA perdana itu; (saya rasakan) kami terbakar semangat yang sama ketika Romo Yusuf mengundang untuk terlibat membagi ilmu dengan mereka.

Mengenang tahun-tahun awal tugas di Keuskupan Timika dan saya menemukan orang-orang yang sadar bahwa dirinya bukan orang biasa, orang-orang yang tidak mau tahu bahwa ada sesuatu yang tidak mungkin, orang-orang yang mati-matian menghayati dirinya adalah seorang misionaris. Jangan salahkan saya berpikir demikian, karena orang pertama yang menjumpai saya adalah Basilius Soedibya SJ; yang menjemput saya dan mengajak saya berputar-putar dengan Land Rover tuanya di kota seremeh Nabire. Tidak ada yang menarik di Nabire, tidak ada mall, tidak ada bioskop 21, tidak ada satu mobil sedanpun, tidak ada restoran enak dan terlebih lucu lagi tidak ada barang murah di Nabire. Ketertarikan itu muncul ketika di sudut kecil kaki Bukit Meriam, Romo Bas akhirnya menunjukkan suatu hal yang istimewa, pusat misi Yesuit. Istimewa karena tidak seperti yang saya bayangkan tentang misi para Yesuit ini.

Sejak masuk SMP Kolese Kanisius, saya mulai dididik Yesuit di daerah super elit di jalan Menteng Raya, sebuah sekolah yang tiap tahun diimpikan seribu lebih remaja Jakarta namun hanya puluhan orang saja diizinkan duduk di bangku belajar jati, yang bukan main antiknya. Waktu itu saya masih rasakan lantai marmer di aula tua yang sekarang auditorium bertingkat dua. Sementara tentang Romo Bas, dalam tugas terakhirnya di Jakarta saya kenal sebagai seorang Rektor Seminari Menengah Wacana Bhakti dan Kolese Gonzaga sekaligus, juga sekolah hebat bahkan untuk ukuran Jakarta sekalipun. Setahu saya, dulu Romo Bas hanya bergaul dengan orang-orang besar yang kekayaannya tidak habis tujuh turunan, orang-orang yang aroma harumnya saja sudah bikin iri bunga-bunga mawar di tamaBengkel kayu Yesuit di Nabiren depan Rektorat yang megah. Dan di Nabire, sebuah sekolah kumuh SMU Adhi Luhur sudah disebut sebagai kolese, sebuah rumah yang retak sana sini sudah menjadi pusat misi tarekat sebesar Serikat Yesus. Romo Bas gemar membanggakan bengkel kayu dan kandang babinya. Semua itu tidak membuat saya kagum sedikitpun sampai kemudian saya tahu bahwa tidak ada satupun bengkel furniture di Papua punya alat selengkap karya misi Yesuit ini; dan bahwa semua alat itu harus dibawa dengan sebuah Landing Ship Tank, sebuah alat perang, seperti alegori sebuah perjuangan yang harus segera saya hadapi juga setelah menatap paroki kosong di Bomomani.

Kompleks misi Bomomani, tepat di tengah pegunungan tengah Papua persis di antara distrik Kammu dan distrik Mapia, rupanya kumpulan bangunan kayu sederhana terserak di antara lahan kerikil dan tanah merah tempat rumput tinggi tumbuh subur di kebun dan sela-sela pekarangannya. Gereja kayunya berdiri sederhana dan belum terkesan tua dibanding usianya, sementara aula yang baru dibangun sudah menunjukkan tanda-tanda akan roboh, dinding di sebelah utara aula sudah miring keluar sekitar dua puluh derajat dan kuda-kuda atap sudah melengkung. Dua pondok bertingkat berdinding papan cincang juga sudah tak terawat, tampak seperti rumah hantu menambah suasana horor di lokasi yang dikeramatkan oleh penduduk setempat ini. Pastorannya kelihatan hendak dibuat baik tapi kurang persiapan. Kayu-kayunya masih basah sehingga semua bingkai melengkung membuat jendela dan pintu tidak bisa menutup rapat. Ketika melangkah di pastoran ini, jelas bahwa lantainya sangat rapuh, setiap membaringkan diri untuk tidur ada kekhawatiran lantai akan patah dan itu juga sudah terjadi. Saya tertawa, ternyata ada hunian pastor, yang jauh lebih parah dari pusat misi Yesuit di Nabire.

Seorang pastor, Vincent Suparman SCJ, adalah yang pertama menantang saya! Dengan lihai dia mulanya perlihatkan gereja Tiga Raja lama yang kuno dan mati gaya itu, baru kemudian menunjukkan kapela St. Fransiskus di susteran Charitas RSMM. “Ini baru gereja! Siapa dulu yang bangun… Freeport!” ujar Pater Vincent seolah-olah tidak ada orang lain yang bisa bikin barang bagus di Papua. Ini yang membuat saya sinis dalam hati, karena saya hitung-hitung, bangunan itu terlalu murah untuk perusahaan seperti Freeport. Diam-diam saya sudah rencanakan, “Nanti kamu lihat gereja baru di Bomomani…” bukankah ada banyak batu dan kayu yang bagus di Bomomani? Maka keyakinan itu semakin besar, saya seorang misionaris. Seorang misionaris akan temukan cara agar kabar gembira itu bisa sampai dan jiwa-jiwa dimenangkan bagi Allah. Freeport itu kecil dibandingkan back up yang mendukung saya, Tuhan Allah.

Akhirnya saya tidak lagi menuntut subsidi rutin dari Jakarta saat masa prapaskah pertama saya di pegunungan Mapiha, Papua (Maret 2005). Pakaian saya mulai kumal karena terbiasa mendorong-dorong drum bensin dan solar, yang laku keras di pedalaman. Saya seorang imam diosesan KAJ, dan kini misionaris di tanah Papua, menolak dimanjakan kemapanan karena Allah sudah manjakan saya dengan segala kecerdasan dan gagasan di kepala tolol ini untuk memperdaya modernitas bagi kepentingan umat. Saya melihat kegigihan Rm. Bas dan Rm.Yusuf yang tidak menyerah dengan keterbatasan situasi setempat, mereka bisa dan para Yesuit bertahun-tahun sudah mengajarkan pada saya semangat magis semper, selalu lebih, selalu mengatasi kemapanan…

“Ini Persis Seperti Yang Dahulu Kami Buat…”

Demikian ujar Br. Jan, OFM, yang datang meramaikan paskah 2009 di Bomomani. Saya sangat terkesan dengan bruder ini, pertama-tama karena dia pribadi yang sangat menyenangkan. Terlebih lagi, mempelajarinya sama seperti fosil hidup dari suatu nostalgia perintisan awal penyebaran Injil di wilayah pedalaman. Dari pribadinya saya menggali banyak hal terkait perjuangan misi membuka daerah terpencil ini. “Saya pukul anak-anak keras-keras karena saya sayang pada mereka,” katanya serius saat menjelaskan pola pendidikan asrama di Moanemani dahulu kala. Bruder Yan meyakinkan saya bahwa umat saya, orang Papua, bukan pemalas; mereka hanya terpisah ribuan tahun dengan peradaban. Misi Fransiskan, menafsirkan cerita Bruder Yan, adalah memberi kesempatan bagi umat untuk mengejar tahun-tahun yang hilang itu khususnya dengan pendidikan pertanian dan peternakan, dengan pengetahuan membaca agar umat bisa menemukan dunia yang lebih luas dari sekedar gunung gemunung di sekitar mereka. Lebih jauh lagi saya meneliti, para misionaris awal ini sudah memahami pokok permasalahan umat pribumi: pasar!

Br. Jan

Br. Jan, OFM mengamati heran turbin air mikrohidro di kali Ihoai, sekitar tiga ratus meter ke sebelah barat kompleks misi, sungai itu sekaligus menjadi batas terjauh kompleks misi jika lokasi sekolah dasar YPPK, yayasan pendidikan milik Keuskupan Timika diperhitungkan sebagai wilayah misi juga. Pembangkit listrik tenaga air ini bukan kerja satu orang, ada akumulasi kerja keras dari sejumlah orang di Jakarta dan di Bomomani. Dari Jakarta, Budi Susanto, seorang bapak umat saya di Bojong adalah lulusan PIKA yang kemudian memproduksi mesin pengolahan kayu, Bp. Budi menyumbangkan bagian esensial yakni turbin. FX.Purwanto, paman saya menyumbangkan polly besar untuk percepatan putaran turbin, Om Pur tidak bosan sumbang ketika kiriman polly yang pertama ternyata tidak cocok untuk turbin dan mengirimkannya yang baru lagi, padahal harganya sama sekali tidak murah. Kemudian kabel-kabel, panjangnya mencapai 3 Km dalam berbagai ukuran, semuanya diusahakan oleh Om Pomo, kakak mama saya. FX. Soepomo ini meninggal persis tanggal 2 Nopember 2002, hari peringatan arwah, beliau didoakan dalam misa oleh Pastor Michael, yang sekarang bertugas di Bomomani sehingga semua kini terhubung.

Selain menyaksikan sebuah keajaiban listrik di gerbang belantara Mapia ini, Br.Jan juga melihat hal yang tidak biasa: para pemuda bina tani menyuburkan lahan rusak dengan kompos, sesuatu yang belum terjadi dijamannya, dan menanaminya dengan jagung, kedelai dan sayur mayur sebagai lingkaran kehidupan otonom kompleks misi. Jagung diolah menjadi makanan babi dan ayam potong, selanjutnya ayam potong dan anak-anak babi bisa di jual untuk membeli hancuran ikan asin, bahan olahan pakan babi dan ayam lalu keuntungannya dipakai untuk memenuhi kebutuhan lain bagi kegiatan misi. Demikian juga kedelai, digabungkan dengan hasil pembelian dari petani-petani lain, diolah menjadi tahu, yang diminati umat karena kurangnya pilihan lauk bergizi. Tahu, yang bentuknya mirip lemak babi, sering disebut sebagai babi Jawa karena umumnya diproduksi dan dikonsumsi orang jawa. Kelebihan sayur mayur seperti wortel, yang tak habis diserap segelintir pembeli lokal – sebab kemudian banyak umat ikutan menanamnya – dijual ke Nabire, Sr. Juliva Motulo SMSJ mengambil peran tersebut. Maka Br. Jan kembali senang melihat jaringan kerja Bomomani yang cukup rumit ditelusuri.

Sebenarnya kekaguman Br.Jan mesti mengarah pada saudari fransiskanesnya, Sr. Juliva Motulo SMSJ. Segala gagasan dari mulut bawelnya itulah yang kemudian menggerakkan saya melakukan hal-hal melelahkan melawan kemapanan pastoran Bomomani, yang setelah lima tahun menjadi tempat paling nyaman di pedalaman Papua. Dengan listrik 24 jam, saluran air jernih yang mengalir tiada henti untuk pabrik tahu disisihkan sebagian untuk pastoran, siaran televisi berbayar dari parabola telkomvision, jaringan transport yang mondar-mandir melengkapi kebutuhan hidup, komunikasi radio dan telepon satelit semuanya bisa membuat saya tenang-tenang saja menikmati hidup di Bomomani. Tapi kehadiran Sr.Juliva ini memang mengganggu kenyamanan saya. Minimal seminggu sekali dia miss call, memaksa saya telpon balik untuk tanyakan soal wortel, daun bawang atau tomat, yang akan dikirim ke Nabire atau melapor soal penjualannya atau tentang ayam, tentang babi-babi atau kemungkinan membuat misa di Legari sekalian membeli jagung di sana atau tentang apa saja gagasan yang ada di kepalanya diocehkannya ke telinga saya, seringkali ketika sebuah film bagus di putar di HBO, Cinemax atau Star Movie. Saya harus berkata ya, dan memberikan komitmen pelaksanaan untuk hentikan bawelnya.

Memang ocehan Sr. Juliva menjadi gagasan yang banyak saya ciptakan di Bomomani, sebagaiman gagasan saya juga menjadi banyak karya yang dimulainya di Nabire. Ocehannya soal ibu-ibu suku Mee yang berjualan di pasar Nabire, membuat gagasan menggiatkan pertanian sayur di Bomomani menjadi mungkin dibuat seperti juga gagasan saya tentang pengembangan ekonomi ibu-ibu di Nabire menjadi karya membuat kue dan menjahit dalam Rumah Bina Sosial yang dimulai Sr. Juliva bersama rekan sekomunitasnya. Jaringan yang selama ini membantu saya, akhirnya juga membantu Sr. Juliva sepeRomi, Sr.Juliva, Rm. Fe, Myriam dan Mathewrti jaringan kerja yang dimilikinya dilibatkan juga membantu misi domestik mengembangkan contoh peternakan ayam potong di pedalaman untuk pertama kalinya.

Kemudian, Sr.Juliva berkenalan dengan seorang relawan FIDESCO, Cecile seorang sarjana pertanian asal Perancis yang cukup berhasil menghidupkan pembinaan pertanian dan peternakan di Lotta, Menado bersama dengan para relawan Perancis dan para pemuda-pemudi Menado. Perkenalan tersebut dibagikannya kepada saya sehingga akhirnya saya dan Cecile berbicara panjang tentang kemungkinan keterlibatan FIDESCO dalam misi domestik KAJ di Bomomani membangun sebuah Rumah Bina Tani. Maka kisah cinta itu semakin luas melampaui jarak yang terbayangkan bisa mudah dijangkau.

Satu Jiwa dalam Raga yang Berbeda

Kesaryanto, Pr menerima salib perutusannya sebagai misionaris domestik di Bomomani. Dia akan menemani Romi (panggilan akrab Rm. Michael), yang sudah sejak awal 2010 berkarya di Bomomani bersama saya. Dalam perjalanan ke puncak saat pertemuan unio tanggal 6 Juni 2011, saya bertanya “tesis lo tentang apa?” dan dia menjawab “diskursus Habermas dan Ratzinger” saya tersontak senang. Apakah ini suatu kebetulan lagi bahwa Romo Kes punya konsep sama memikirkan misi di Bomomani? Ketika saya dahulu membayangkan misi Bomomani menjadi kemilau dalam pergeseran cara pandang, suatu enlightment in paradigm shift, menjadi pioner dari perubahan budaya yang sementara ini masih dikagetkan ke arah yang acak oleh konsumerisme zaman modern lewat pemerintah yang bagi-bagi duit, para pendatang bak pedagang yang kejar keuntungan dan memperkuat ‘budayanya’ sendiri. Umat Bomomani ditarik paksa masuk peradaban maju sementara kegelapan menyelimuti mereka, kemana arah kemajuan itu? Apakah merdeka secara politik adalah kemajuan? Apakah mengumpulkan rupiah adalah kemajuan? Ataukah menjadi diri sendiri adalah kemajuan?

Romi ajari mama Wakei memasak Saya dan Romi merumuskan arah, menjadi diri sendiri sebagai petani yang katolik dan sejahtera dan mandiri sebagai hasil dari pewartaan Kabar Gembira dalam berbagai aspek dunia modern akan sekaligus membuat iman menjadi pemimpin umat mengembangkan budaya menuju tingkat peradaban yang lebih tinggi. Suatu social deconstruction dari Habermas dan suatu true eucharist dari Gustavo Guttieres sekaligus. Bahasa tinggi ini pernyataannya sederhana, Romi ajar ibu-ibu Bomomani masak dan mengolah lauk dari sayur mayur yang ada, bersama-sama orang muda sesekali dia cari jamur di hutan pada musimnya sambil membuat percobaan jamur. Secara konsisten, Romi melahap tanaman tradisional mereka: nuta (ubi manis), nomo (keladi), sayur hitam, hatu (seperti ilalang), pego (seperti tebu, diambil bakal bunganya) dan iha bemu (sejenis jamur); dia membuat banyak percobaan masakan dengan bahan tersebut dan perkenalkan aneka sayuran baru: terong, bit, brokoli dan selada air. Hobinya menanam aglonema yang mahal dialihkan menanam buncis, wortel dan kacang panjang sambil menghibur diri membudidayakan anggrek langka yang diambilnya dari puncak perbukitan di sekitar Bomomani. Walaupun pastoran belum dipugar seperti gereja baru dan asrama yang keduanya kelihatan gagah, Romi sudah merapikannya sedemikan hingga membuatnya sudah tampak lebih baik dari losmen melati di pinggiran Jakarta. Umat yang sudah bertahun-tahun hanya bisa menanam dan menjual biji segar kopi kini mulai bisa minum kopi hasil buatan mereka sendiri dengan alat sederhana yang ada di dapur mereka.

Akhirnya untuk kedua rekan misionaris, selamat mengkaryakan dunia gagasan dalam misi domestik KAJ di Bomomani. Romo Michael dan Romo Kes, tunjukan bahwa kita HAMBA, kita mengabdi dengan penuh kerendahan hati sebagai gembala yang baik. Hangat dalam perjumpaan dengan umat adalah trademark yang terus kita tampilkan, gaul istilah biasa yang akan kita dengar di Jakarta sekaligus bisa di-andal-kan untuk melakukan tugas-tugas yang jelas tidak pernah mudah, misioner karena siap diutus kemana saja dengan semangat lepas bebas dari apapun yang memikat dan mengikat hati kita, tentu saja bahagia sebagai imam adalah hal penting bagi kekekalan panggilan sampai mati dan jangan lupa ikut andil dalam aneka kepentingan keuskupan tempat kita mengabdi, karya kita di Bomomani bisa meluas membawa kebaikan bagi aneka karya Keuskupan Timika, khususnya untuk paroki-paroki yang berdekatan. ‘…kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?’ (Mzm 56:5) enakidabi

11
Jun
11

BRUDER JAN SJERPS, OFM

Tokoh di balik perkembangan kopi di Papua

(Artikel ini pernah dimuat dalam Majalah Hidup)

 

Bruder yang tak pernah merasa tua ini sudah kerap kali jatuh, bahkan beberapa bulan lalu mengalami patah tulang sekitar leher yang cukup serius. Aktifitasnya yang tetap gesit bagaikan pemuda ini memang berpengaruh atas kesehatan fisik yang cukup prima di usia 75 tahun. Sudah berkarya sejak 31 tahun lalu sebagai misionaris di Papua, 20 tahun terakhir ini karya dan nasehatnya didedikasikan bagi pengembangan perkebunan kopi di Moanemani yang kemudian menyebar ke seantero pegunungan tengah Papua. Sebuah sisi lain dari misi pewartaan Kabar Gembira (baca: Injil).

Teruji di wilayah krisis

Br. Jan Sjerps, OFM terlahir di sebuah keluarga petani Belanda di dusun Zwagdijk-Oost, distrik Wervershoof 1 Nopember 1939. Beliau bergabung dengan para saudara dina di OFM Belanda, 5 Nopember 1964. Tidak lama setelah itu pada tahun 1969 beliau diperintahkan pergi ke Sentani, Jayapura untuk memperkuat misi Fransiskan di Papua. “Waktu itu misi di Papua sangat kekurangan tenaga sehingga kami cepat-cepat diutus,” ujar Br.Jan. Dengan latar belakang sebagai keluarga petani, beliau ditempatkan memimpin Pusat Latihan Pertanian/Peternakan di Sentani selama empat tahun.

Karena ada kekurangan gizi di Agimuga, maka beliau diutus memulai program agraris di Agimuga.  Bruder Jan memperkenalkan sejumlah tanaman sayur dan kacang-kacangan serta ternak unggas kepada penduduk suku Amungme itu. Berkat kompos dari kotoran ternak dan manusia, hasil pertanian cukup berlimpah. “Akhirnya saya membeli semua hasil sayur, mereka tanam buncis, kacang tanah, kacang hijau, padi dan unggas lalu saya jual kembali toh dan membeli daun seng karena mereka semua mau rumah seperti para guru. Mereka gergaji kayu dan bayar tukang untuk bikin rumah.” Kenang Br.Jan yang bukan sekedar mengajarkan tekhnik pertanian dan peternakan belaka tetapi akhirnya memecahkan solusi kelimpahan produksi pangan akibat program tersebut. Selama sekitar empat tahun di Agimuga, bruder juga kumpulkan sekitar 30 orang muda untuk menjadi kader di bidang pertanian. “Mereka setelah lulus SD tidak tahu hendak kemana. Saya berpikir mereka harus hidupi diri dengan bertani, hingga sekarang masih ada yang jadi tokoh,” Br.Jan membanggakan anak didiknya.

Pada tahun 1977 terjadi perang di wilayah tersebut dan selama tiga bulan jalan masuk lewat darat, air maupun udara tertutup karena OPM (Kelik Kwalik) menguasai pedalaman. Tapi wilayah tersebut bertahan hidup dengan hasil pertanian dan peternakan lokal. Situasi darurat tersebut sudah menjadi tolak ukur ketahanan pangan Agimuga berkat program agraris yang dirintis oleh sang misionaris.

 

Awal dari sebuah nama dalam peta

Setelah dinilai kurang aman dan dirasakan program sudah berjalan cukup baik, pada tahun yang sama, Br.Jan diutus ke Epouto untuk mengembangkan pertanian dan peternakan, asrama dan sekolah SMP. “Semua saya kerjakan, mulai dari urus tanaman sampai mengajar anak-anak dan anak-anak harus diberi makan dari hasil pertanian, walau tetap ada bahan makanan dari luar tetapi tiap pagi mereka makan kacang merah,” Bruder menerangkan tugasnya di Epouto. Namun karya bruder di Epouto tidak lama, hanya dua tahun saja. Pada tahun 1979, Bruder pindahkan semua karya misi ke Moanemani. Menurutnya tanah tidak cukup subur utk umbi-umbian guna memberi makan siswa dengan dua sekolah paralel sedangkan biaya operasional akan menjadi terlalu mahal jika selalu harus datangkan pangan dari luar.

“Saya pindahkan semua ke Moanemani dan di sana saya memulai semuanya baru dari awal lagi: membangun asrama dan membangu sekolah lengkap dengan tangki air dan fasilitas yang baik itu, sangat kuat!” Bruder menambahkan. Di Moanemani, yang sekarang menjadi ibukota kabupaten Dogiyai, karya P5 dimulai berdasarkan pengalaman di Epouto ditambah kerja sama yang baik diantara misionaris Fransiskan saat itu. Sementara bruder Jan mengurus pendidikan, P.Koenen, OFM selalu tekankan kerja pertanian dan peternakan dalam setiap kotbah di paroki Moanemani yang dipimpinnya sementara Br.Karel secara khusus menangani pengairan di wilayah yang hanya rawa belaka tersebut, suatu hal yang tidak mungkin terbayangkan jika kita melihat Moanemani saat ini.

Dengan selesainya kompleks asrama dan sekolah tahun 1980. Bruder Yan memusatkan perhatian dengan pelatihan anak-anak SMP, beliau menjelaskan: “Kami tanam 1000 pohon kopi sebagai percontohan dan latihan bagi para petani di moanemani.” Bruder mengambil bibit dari Yametadi, dahulu dinas pertanian pemerintahan Belanda tanam kopi di wilayah tersebut tetapi tidak berkembang. Di bawah pengawasan bruder Yan kebun kopi di belakang kompleks sekolah ini akhirnya dilirik juga oleh pemerintah dan ditetapkan menjadi pusat pembibitan kopi bagi seluruh papua sekitar tahun 1986. Sejak itu, Moanemani terkenal dengan kopinya yang memiliki cita rasa khas dan sebuah nama muncul di peta kosong pegunungan tengah Papua: Moanemani.

 

Memasok kebutuhan pabrik kopi P5

Menurutnya sekitar 300 anak dikerahkan untuk mengerjakan kebun kopi. Tiap minggu bruder mentargetkan waktu 2 jam untuk perawatan tanah pada masing-masing pohon. Beliau menggunakan kotoran sapi dan kotoran besar anak-anak asrama sebagai pupuk bagi tanaman kopi. “Setiap anak punya satu kaleng untuk tampung kotoran dan itu dibuang di kebun kopi, praktis heh?!” kelakarnya. Tiap sabtu dan minggu pergi ke kampung untuk penyuluhan kopi dan memberikan penyadaran tentang pentingnya tanaman ini bagi perkembangan masyarakat. “Apalagi anak-anak dari mana-mana datang, mereka juga mau tanam kopi di daerah asalnya, jadi promosi yang cukup baik,” sambung bruder.

Masalahnya bruder Jan tidak sempat lagi untuk mengajar goreng kopi karena berbagai kesibukan yang sudah menantinya di sekolah dan asrama. Di sekolah, selalu ada pelatihan mengupas kulit merah, proses fermentasi dan mengeringkan kopi, setelah kering, kulit keras (parchment) dikupas dan kopi dijemur lagi menjadi biji kopi berwarna hijau segar (green). Maka bruder memang serius pusatkan program pembibitan, pemeliharaan dan pengolahan pasca panen perkebunan kopi, sementara hasil panen yang sudah siap digoreng langsung dijual ke pabrik kopi P5 untuk mendukung program ini. Saat itu satu-satunya roaster hanya ada di pabrik kopi milik keuskupan lewat program yayasan P5 di Moanemani maka seluruh hasil kopi terbaik dari masyarakat ditampung di situ.

Di tempat lain di timeepa beberapa petani sudah punya kopi juga sebelum Br.Jan datang. “Sekitar tahun 1980an sudah ada kebun kopi yang bagus di sekitar Timeepa, mungkin itu sebabnya kita sekarang punya dua jenis kopi di pedalaman,” ungkap bruder Jan, yang menerangkan banyak hasil kopi dari Timeepa di kirim ke Nabire dengan pesawat misi lalu para pendatang mengolahnya, mereka mencampur kopi dari Timeepa maupun kopi buangan dari Moanemani dengan jagung untuk kemudian memberi cap Moanemani guna menarik pembeli yang terlanjur suka kopi Moanemani. Berangsur-angsur, pabrik kopi asal-asalan itu lebih sukses memasarkan produknya yang murah ketimbang pabrik P5, yang semakin susah mendapat kopi bermutu dari masyarakat. Sudah lima tahun terakhir produksi kopi masyarakat menurun drastis seiring perginya sang begawan kopi, Bruder Jan, yang karena usia ditarik ke pusat misi Fransiskan di Sentani, Jayapura sejak 2005.

Akhirnya bruder yang masih terus memantau hasil kerja kerasnya mengembangkan kopi di pegunungan tengah Papua memberi komentar terkait dengan usaha Misi Domestik KAJ menghidupkan kembali semangat jadul itu, “Sekarang tiap petani bisa goreng kopi, itu bagus sehingga ternyata bisa lebih efisien dan sejalan juga dengan cita-cita Gereja mandiri. Di papua sering pembangunan meloncat-loncat, dengan industri kecil hal ini bisa dihindari. Sekarang bisa muncul kerja koperasi. Program P5 tidak pikirkan hal itu dahulu, karena punya modal besar dirikan pabrik bagus, ada fasilitas dari misi soal bahan bakar misalnya mereka pakai avtur. Dengan industri rumah tangga, sebuah kelompok kerja bisa membuat hal ini dengan murah seperti di Belanda dulu, kami juga biasa buat keju dari sapi yang kami sendiri perah. Dan ini bisa hidupkan masyarakat Kamuu dan Mapia masuk dalam budaya kopi… ya… seperti Toraja.” (enakidabi)

28
Mei
11

MAPIA, Pedalaman Papua Yang Tidak Populer

"Bomomani, pusat distrik Mapia adalah salah satu medan pastoral terberat Keuskupan Timika, setelah wilayah Moni – Puncak Jaya…" ujar Mgr. John Philip Saklil

Melihat kemajuan masyarakat pantai karena masuknya Misi Katolik di Kokonau, wilayah pantai Mimika Barat, Aoki Tekege mengundang Pastor Smith, OFM untuk mendaki ke Modio. Setelah permohonan yang berulang-ulang dari pemuka adat suku Mee, masyarakat pegunungan di bagian bawah leher burung dan dada atas pulau Papua ini, akhirnya Misi masuk ke daerah Mapia tepatnya di Modio dan merayakan Natal pertama kali pada tahun 1929. Ketika dalam salah satu perayaan pesta adat di Modio seorang warga suku Mee dari daerah Paniai datang dengan dayung, hal ini menarik perhatian Pastor Smith. Beliau meminta seorang pilot Belanda, Wiessel mencari tiga danau besar di sebelah utara Mimika. Akhirnya tahun 1935, danau Tigi, Tage dan Paniai ditemukan, perhatian misi diikuti pemerintah Belanda tercurah ke Enarotali di daerah Paniai karena sulitnya perjalanan ke Mapia padahal daerah Paniai bisa dicapai dengan pesawat ampibi. Maka Enarotali berkembang pesat dan sudah lama menjadi ibu kota Kabupaten Paniai setelah Papua menjadi bagian dari Indonesia sementara Mapia nyaris tak dikenal.

185 Km saja dari Kota Nabire

Bomomani, mestinya sebuah kota pusat pemerintahan distrik Mapia (setingkat kecamatan) merupakan wilayah paling selatan dari Kabupaten Nabire. Namun pintu gerbang bagi wilayah pegunungan seluas JABOTABEK ini tampak tidak lebih dari sebuah kampung yang biasa kita saksikan dalam film-film laga berlatar kerajaan-kerajaan kuno di Jawa. Tidak ada listrik untuk menjalankan administrasi pemerintah ataupun penerangan penduduk, bahkan kepala distrik harus membayar mahal untuk menyewa listrik dari para pedagang Bugis-Makasar yang membangun kincir air sederhana sebesar tiga ribu watt sekedar untuk penghiburan di antara perantau itu. Namun beberapa penduduk yang bekerja sebagai guru atau pegawai negri juga bisa membeli lima liter bensin dengan harga sepuluh sampai lima belas ribu per liter, sebelum kenaikan BBM per 1 Oktober lalu, untuk menggerakkan generator 200 watt sepanjang malam.

Iringan truk – sarana angkut manusia dan barang ke pedalaman, yang kerap kali dikawal sebuah mobil berpenggerak empat roda, biasanya enggan mampir ke Bomomani. Para sopir yang berangkat subuh dari kota Nabire sudah terlalu lelah setelah menempuh jarak 185 km selama sepuluh-sebelas jam mendaki jalanan jelek dan jembatan yang berbahaya karena kurangnya perhatian pemerintah kabupaten Nabire. Sementara jalan rintisan sempit sepanjang satu kilometer ke Bomomani sangat sulit dilalui. Praktis Bomomani dan Wilayah Mapia lainnya tersisih dari perhatian, bahkan banyak terbitan peta Papua tidak mencantumkan nama daerah ini.

Lepaskan gambaran tentang kampung-kampung di Jawa kalau mau membayangkan perjalanan darat dari ibu kota kabupaten Nabire ke Bomomani, pusat distrik Mapia. Dua puluh kilometer ke arah selatan dari kota Nabire kita sudah bisa menemukan hutan alami dan jalanan aspal mulai rusak sampai kita bertemu kota kecamatan Topo di KM 30 barulah jalanan membaik beberapa kilometer untuk kemudian rusak sama sekali sampai KM 50. Jalanan baru beraspal lagi di sekitar Mr.Philips, demikian orang biasa menyebut dataran yang mulai mendaki, sekitar 55 km dari Nabire. Di daerah itu seorang berkebangsaan Belanda pernah tinggal cukup lama melakukan penelitian flora dan fauna. Setelah delapan puluh kilometer meninggalkan Nabire, kita akan memasuki medan mendakit penuh lumpur, kubangan raksasa dan jembatan rusak yang sungguh-sungguh berat dan berbahaya.

Mobil gardan ganda masih jadi andalan transportasi

Kecelakan motor, truk terbalik dan mobil yang tergelincir tidak bisa dihitung lagi. Sebenarnya itu jalan darat sendiri hanya layak dilalui selama 8 bulan dalam satu tahun karena kondisi jalan setelah perbaikan seadanya yang dilakukan rutin tiap tahun hanya bertahan paling lama 8 bulan. Setelah itu dua bulan para sopir memaksa kendaraan mereka menembus medan yang amat cocok bagi kejuaraan off-road dan setelah 10 bulan jalan darat tak bisa dilewati lagi menunggu pekerjaan proyek perbaikan jalan. Beberapa tahun lalu, sembilan orang penumpang truk tewas karena salah satu jembatan di jalur ini patah. Keluarga korban yang marah membawa sembilan mayat yang tewas ke depan kantor Bupati yang segera memperbaiki jembatan tersebut menjadi amat bagus. Sejak itu setiap keluhan dari orang-orang yang baru pertama kali merasakan buruknya kondisi jalan lintas pedalaman ini selalu dijawab penuh canda oleh para sopir dengan istilah “tunggu 9 orang lagi!”

Hanya ada ubi dan kacang tanah

Kalau menurut kita mereka miskin…

Barangkali kitalah yang membuat hidup mereka menjadi miskin

Atau setidaknya membiarkan orang lain membuat mereka menjadi miskin.

Ubi jalar, yang dalam bahasa setempat disebut nota, adalah makanan utama penduduk suku Mee dan masyarakat pegunungan Papua lain. Biasanya ubi dibakar dan dimakan hampir tanpa tambahan protein yang cukup untuk kesehatan. Seringkali untuk menambah selera mereka memasak daun ubi jalar dicampur dengan mie instan, sedikit ikan asin atau satu kaleng kecil ikan sarden, inilah bumbu yang umum digunakan masyarakat. Memang kadang-kadang mereka menyembelih ayam yang harganya menjadi mahal (sekitar seratus lima puluh ribu per ekor) karena kebanyakan mati kurang sarana pemeliharaan dan pencegahan penyakit. Sewaktu pesta, susu encer bisa dihidangkan dan babi, yang harganya tiga jutaan, bisa disembelih dan dikukus dalam batu yang dibakar. Dimakan dengan nasi, makanan pokok untuk pesta.

Singkatnya, penduduk asli banyak tergantung pada para pendatang Bugis-Makasar yang mampu mendatangkan dan menjual barang-barang sembako dari kota. Garam, gula, minyak goreng, mie instan, ikan asin dan ikan sarden kalengan menjadi bahan pokok dalam menu makanan sehari-hari yang harus ditebus dengan mahal karena para pendatang yang memonopoli perdagangan di pedalaman telah sepakat dengan harga jual yang menghasilkan keuntungan besar. Jika di Bomomani, pusat distrik Mapia, harga satu bungkus gula seberay 7 ons adalah sepuluh ribu rupiah maka harga di Modio, Timepa, Apowo dan kampung lain di wilayah Mapia bisa mencapai dua kali lipatnya karena semua barang harus diangkut dengan penerbangan perintis atau jalan kaki satu sampai tiga hari.

Dalam bidang perekonomian, para petani di Mapia banyak bergantung pada panen kacang tanah yang memang terkenal. Kebanyakan ladang penduduk, ditanami kacang tanah selain tentu saja nota (ubi jalar) yang menjadi makanan pokok. Kendala mendasar berkaitan dengan pengembangan ekonomi dari sektor pertanian di Mapia, sekali lagi, adalah masalah transportasi. Dominasi jaringan dagang para pendatang Bugis-Makasar berhasil juga mengendalikan jalur pemasaran hasil bumi masyarakat asli. Kesulitan transportasi memaksa para petani lokal menjual hasil bumi kepada para pedagang Bugis-Makasar yang sekaligus juga menjadi tengkulak hasil pertanian. Penyuluhan atau usulan tanaman yang lebih menguntungkan secara ekonomis, misalnya kopi atau palawija tidak memberi perubahan berarti bagi perekonomian masyarakat. Masalahnya, pertukaran untung tak berimbang yang terjadi tidak  berpihak pada penduduk lokal sehingga membuat jurang kesejahteraan pendatang dan masyarakat lokal makin melebar.

Membawa Salib dan Uang untuk mengalahkan Swanggi

Berkat kerja keras dan ketekunan para misionaris fransiskan puluhan tahun lalu, saat ini 70% total populasi warga Mapia telah beragama Katolik. Sayangnya tenaga imam dan pewarta yang sejak dulu tidak pernah menetap di satu kampung melainkan harus senantiasa berkeliling memberi pelayanan pastoral di wilayah yang demikian luas menyebabkan penghayatan dan pengetahuan iman umat tidak sepesat jumlah baptisan yang ada. Di satu pihak mereka adalah seorang Katolik di lain pihak ketakutan pada swanggi (arwah gentayangan), eniha (setan) serta kutukan adat peninggalan animisme leluhur masih mencekam kehidupan umat dengan tingkat yang sangat memprihatinkan. Tingginya tingkat kematian ibu dan anak, sebagai akibat kurangnya gizi, dipercayai umat sebagai kutukan adat atau perbuatan swanggi. Bahkan seorang katekis Katolik pernah mengatakan ada swanggi yang lebih kuat dari Allah atau mereka bisa membunuh manusia ketika Allah dan para malaikatnya tertidur.

Di luar ibadat hari Minggu, doa-doa bersama dalam keluarga dan komunitas lingkungan mulai terjadi beberapa tahun terakhir ini. Sementara devosi-devosi belum berkembang. Hanya umat yang pernah belajar di asrama misi atau di kota kabupaten tahu cara berdoa rosario selebihnya umat memakai rosario sebagai jimat penolak malapetaka. Demikian juga pengenalan kitab suci amat buruk karena tiga alasan yaitu pertama banyak umat belum bisa membaca, kedua pastor dan pewarta tidak sempat memberi pengajaran kitab suci karena sibuk memberikan pelayanan sakramental dan terahir tidak tersedia kitab suci dalam jumlah yang cukup. Namun seorang yang dibaptis menjadi Katolik memiliki pengetahuan minimal tentang doa dan tradisi katolik karena persiapan selama satu tahun.

Akan tetapi perayaan liturgis mingguan bisa menjadi amat hidup karena melibatkan seluruh dinamika dan sumber daya komunitas. Usai ekaristi, umat biasa berkumpul di luar gereja untuk mendiskusikan langkah kerja berangkat dari kotbah yang disampaikan pastor paroki. Apalagi dalam perayaan besar, acara liturgi sangat meriah. Misalnya  saat Minggu Palma seluruh umat membentuk barisan dengan dedaunan di tangan memaksa pastor yang sudah kelelahan berjalan kaki ke tempat itu masih harus keliling kampung sebelum masuk gereja. Lonceng gereja menjadi penanda kegiatan bersama seluruh kampung, karena umumnya tiap kampung beragama homogen, dengan menyebut nama kampungnya kita bisa tahu apakah ia beragama Katolik atau Protestan.

Pengembangan rohani dan iman umat menjadi keprihatinan pokok misi Gereja Keuskupan Timika saat ini meskipun disadari juga bahwa hal itu harus berjalan seiringan atau malahan didahului dengan pengembangan sosial ekonomi-budaya. Bukankah di Jawa misi dimulai lewat pendidikan dan kesehatan sebelum masuk dalam pewartaan Injil? Di Mapia pewartaan Injil sudah dimulai sebelum karya pendidikan dan kesehatan mantap dilaksanakan. Jadi kalau ingin menunjukkan kuasa Allah melebihi swanggi dan kutukan adat, Gereja harus memantapkan pendidikan dan kesehatan masyarakat agar pemahaman akan penyakit, pencegahannya dan pengetahun tentang gizi serta ‘bagaimana mencari makan yang baik’ semakin berkembang sehingga angka kematian ditekan. Pendek kata misi Gereja juga akhirnya harus mengembangkan ekonomi masyarakat pedalaman.

Jalan rintisan Nabire – Enarotali bisa dibangun melintasi Moanemani, pusat distrik Kamu, wilayah terdekat dengan distrik Mapia dan hal ini menggerakan Misi Gereja Katolik untuk memberi perhatian meningkatkan ekonomi masyarakat papua lewat P5 (Program Pengembangan Peternakan, Pertanian dan Perikanan). Peternakan sapi, itik, ikan dan kelinci, penggilingan kopi dan gerakan perkebunan inti menggairahkan masyarakat suku Mee. Sayangnya program P5 yang sangat mahal itu akhirnya gagal dan membuat umat setempat kehilangan lagi kesempatan mendapat kesempatan ekonomi berimbang.

Belajar dari pengalaman pahit misi Gereja di wilayah tetangga, maka misi Gereja di Mapia memulai pengembangan ekonomi masyarakat tidak dengan uang yang banyak tapi relatif lebih murah. Sadar akan mahalnya harga sembako di kios-kios para pendatang, umat di paroki dan stase memulai kios menjual barang dengan harga terjangkau. Lalu berangkat dari kebutuhan akan lauk maka pabrik tahu sederhana dibuat dan menggiatkan masyarakat mulai menanam kedelai. Perlahan-lahan umat diajak untuk belajar mengolah segala dimensi kehidupan di sekitar agar makin mengenal kasih sang pencipta.

Memang manusia tidak hidup dari roti saja melainkan juga dari sabda Allah; namun tanpa makanan yang cukup umat Mapia akan sakit dan mati hingga tidak akan pernah bisa lagi mendengar sabda Allah.

28
Mei
11

Sepenggal Jurnal Harian

Hidup adalah pilihan, menjadi pastor adalah pilihan; maka atas kehendak jiwa dan penyelenggaraan Illahi, saya memilih medan terberat untuk mengajar tubuh saya yang lemah…

Minggu, 5 September 2004

Terburu-buru dan kurang persiapan masih menjadi hal jelek yang melekat, juga ketika saya akan berangkat tugas misi di Bomomani, Papua. Terlalu banyak kesenangan yang dikerjakan ketimbang prioritas melaksanakan tugas misi.

Usai kotbah terakhir di Bojong Indah, saya berangkat bersama keluarga Pak Barnabas dan sejumlah mobil pengantar lainnya menuju terminal 1A, bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Jakarta. Di sana sudah menunggu sejak sore, keluarga Nursidi yang senang memberi persepuluhan hampir setiap bulan sejak saya bertugas di Bojong Indah. Juga ada anggota DP Bojong, ibu Betty, pak Anwar serta tentu saja mudika Bojong: Shierly, Shinto, Stephani ‘biola’ dll. Keluarga saya dan para pastor, Yust, Samuel dan Andi juga sudah hadir. Ada 32 orang mengantar saya, melepas keberangkatan ke Papua hingga seorang petugas heran ketika tahu bahwa hanya seorang saja yang berangkat dari sekian banyak orang yang datang bagaikan rombongan ziarah.

Pesawat penuh sesak dengan penumpang seperti kereta api kelas bisnis, yang dulu sering saya gunakan sebagai alat transportasi ke Yogya. Sekarang ini pesawat udara sudah menjadi alat transport untuk orang kebanyakan saking murahnya tiket dibandingkan tiga tahun lalu, walau itu tidak berlaku untuk tujuan Papua. Kebetulan sekali saya duduk bersama dengan seorang guru sekolah katolik yang sudah mengabdi hampir tiga puluh tahun lamanya di Jayapura. “Hidup di Jakarta terasa tidak aman dan terasa sulit untuk mencari makan,” begitu pengakuan sang bapak guru asal Tapanuli itu, yang melihat Papua sebagai tanah harapan nafkah bagi dia tiga dekade lalu dan bagi keluarganya kini.

Senin, 6 September 2004

Sekitar jam satu dinihari WIB, saya tiba di Makasar dan langsung telpon Romo Yust dan Romo Ludo karena ingat satu kotak yang terlupa saya berikan pada mama. Karena terburu-buru, kotak benda berharga itu saya letakkan sembarangan hingga tak ingat lagi dimana saya ‘lempar’ kumpulan barang duniawi yang lumayan mahal itu. Saya sendiri sudah pasrah jika benda-benda itu hilang karena keteledoran saya.

Akhirnya saya sampai di Biak sekitar jam setengah empat pagi waktu Jakarta. Saya langsung tanya Romo Roy perihal conected flight menuju Nabire karena saya dengar Romo Bas memesan pesawat dan kabarnya ada seorang suster telah menunggu saya di Biak, padahal sebuah Twin Otter Merpati akan melanjutkan penerbangan saya ke Nabire dan berangkat Pk. 6.30 waktu Papua, sekitar tiga perempat jam lagi.

Akhirnya saya atasi kerancuan itu dan membatalkan penjemputan oleh suster yang memang sudah hendak pulang karena putus asa mencari seorang bernama ‘Ferryanto’ sesuai pemberitahuan Romo Bas yang lupa nama lengkap saya. Kesan saya, orang papua amat menghargai pelayan rohani dan langsung terasa akrab mau membantu saya menemukan suster yang menjemput saya. Mudah sekali saya hilir mudik melewati pintu masuk tanpa pemeriksaan di bandara berkelas internasional di Biak guna mengejar suster yang putus asa menemukan nama saya di antara penumpang Merpati dengan nomor penerbangan 774.

Tepat jam setengah tujuh waktu Papua saya masuk ‘Bajaj Terbang’ bersama sekitar 14 orang lainnya. Ini pengalaman pertama saya naik ‘Twin Otter’ yang dengungan mesinnya kelewatan kerasnya dan kelewatan sempitnya, persis naik bajaj.

Ada seorang suplier perlengkapan medis duduk di samping saya, seorang blasteran Belanda, jemaat Effata bernama Paulus Kartono. Kami banyak ngobrol mulai dari hal-hal yang saya duga muncul dari prasangka negatif kaum protestan terhadap orang Katolik sampai saya bisa membelokkannya pada kekaguman atas logika rasionalitas seorang pastor Katolik mengatasi takhyul-takhyul mukjizat dan hantu gentayangan.

   Landing di Bandara Nabire… naik Twin Otter direct – continuus flight dari Jakarta…

Bandar udara Nabire seperti gudang transit narkoba yang sering saya lihat di film-film laga. Romo Bas sudah menunggu bersama dua orang muda kecil, relawan pertukangan bagi keperluan misi Yesuit. Dengan sangat ramah dan bersahaja beliau membawa saya keliling kota Nabire dalam sebuah Land Rover tua yang tampak gagah berlabur warna hijau tentara. Imagi tanah misi membuat bulu roma saya merinding ketika saya mengenang hal itu. Ada lebih banyak kebanggaan dan harapan lagi merasuk dalam batin saya meneguhkan tekad agar saya tidak boleh gagal, tidak boleh mundur lagi oleh rayuan gombal suara merdu kesenangan, kecantikan dan kemewahan Jakarta.

Makan Indomie rebus yang kebanyakan kuahnya terasa nikmat sekali pagi itu. Dengan lahap saya ambil sepotong kecil ayam goreng terakhir, ikan asin dan beberapa potong tempe goreng. Saya terkejut bertemu Br.Sutter dengan pakaian kotor muncul dari kebun dan masih ingat menyebutkan nama lengkap saya Johan Ferdinand Wijshijer. Ucapan selamat datang tampak dari wajahnya yang ceria. “Tak terduga kita bertemu lagi di Papua,” demikian komentarnya sambil melanjutkan pekerjaannya di kebun seolah-olah kehadiran saya adalah hal biasa.

Menjelang makan malam, Romo Bas menjemput saya kembali untuk makan bersama dengan para Yesuit dan relawan untuk Papua. Makanan sangat sederhana, tahu bacem dan sayuran yang menunya tidak serasi namun suasana dan rasa lapar membuat segalanya enak untuk dimakan.

Selasa, 7 September 2004

Usai sarapan nasi goreng bersama Yulita saya mengunjungi pusat misi Yesuit. Ngobrol-ngobrol dengan romo Bas mencoba menemukan alasan saya ke Papua. Romo Bas mengatakan, “Kalau kamu sudah menemukan kepribadian seorang pastor, kamu bisa melayani dimanapun betapapun sulitnya, lihat Bruder Sutter yang tak peduli dengan penampilan kumuh asal terus bisa bekerja melayani demi kemuliaan Allah.” Beliau menekankan pentingnya menemukan kepribadian seorang pastor agar saya kurang peduli pada penampilan diri sendiri supaya semakin peduli pada orang lain. “Papua mempunyai budaya yang berbeda, kamu harus melihat mereka dengan kacamata positif, menerima budaya dan apapun tata cara kehidupan mereka kecuali dalam hal moralitas perlu ada ketegasan!” demikian Romo Bas menambahkan.

Saya meminjam sepeda romo Kris untuk keliling kota. Tak disangka hanya dengan 30 menit seluruh pusat keramaian kota Nabire sudah bisa saya jelajahi. Saya putar-putar kota mencari barang dari jam 10.00 sampai sekitar jam 13.00 lalu tersasar sampai ke pasar Karang Tumaritis dalam perjalanan pulang. Tiba di Pastoran Kristus Sahabat Kita saya langsung terkapar dalam kelelahan sampai Pagi memanggil saya untuk makan siang bersama Yulita Mote. Ada capcay dan semacam puyunghai, yang tidak cocok di lidah saya sehingga saya hanya makan nasi dengan lauk tempe pedas yang lumayan rasanya.
Sekitar jam enam sore, saya pergi lagi ke kota dengan sepeda. Kali ini dengan satu tujuan jelas: beli hand phone. Nokia 6600 saya dapat dengan harga Rp 3.400.000,- untuk saya pasangkan dengan nomor mentari karena Nokia 6610 saya isi dengan nomor Simpati Papua agar hubungan dengan pribadi-pribadi di Papua lebih mudah dan murah. Agaknya saya belum bisa lepas dari gaya hidup mewah, saya beli HP baru dengan pikiran bisa kirim MMS dan akses GPRS eh ternyata di sini belum ada fasilitas itu. Bahkan internet belum masuk Nabire. Untunglah Perkumpulan Aloysius, Pusat Misi Yesuit di Nabire menumpang akses ke Kolese Kanisius Jakarta dan untung juga saya diijinkan nebeng alamat email papafe@nabire.provindo.org. Malam ini hujan dan saya terlalu cape untuk bersepeda ke pusat misi, apalagi pantat terasa sakit karena seharian naik sepeda sehingga saya menghabiskan malam di kamar pojok Pastoran Kristus Sahabat Kita, Nabire.


Oh ya, mengejutkan juga Mgr Jhon Saklil telpon HP saya dan memberi arahan serta nama-nama orang yang bisa saya hubungi.

 

Rabu, 8 September 2004

Usai makan pagi sebelum terlalu siang, Bp.Hubertus Kobepa datang dan ajak saya keliling kota dengan ojek dan taksi – sebutan untuk angkutan umum dengan minibus. Kami cari motor sesuai dengan kebutuhan di Bomomani. Motor jenis trail Yamaha YT 125 yang khusus untuk medan pegunungan ternyata tidak ada dan harus menunggu pengiriman entah kapan akan tiba. Setelah putar-putar akhirnya kami putuskan membeli Yamaha RX King.

Hari ini saya juga berkenalan dengan Bp.Xxx, staf di Yayasan Tillemans. Entah mengapa saya merasa agak kurang srek dengan bapak ini, namun perasaan itu saya tutupi dan saya mencoba untuk berpikir positif.

Menjelang malam saya memulangkan sepeda yang saya pinjam. Malam ini untuk pertama kali saya mencoba jas hujan yang biasa saya pakai di Jakarta. Pulang sekitar jam 20.00, berjalan di tengah kegelapan Jl.Sudirman menuju paroki KSK. Malam ini saya mencoba untuk tidur dengan lampu padam.

Kamis, 9 September 2004

Sore ini saya ambil motor RX King, masih agak canggung. Ketika pulang bertemu dengan rombongan sekolah Adhi Luhur bersama guru-guru mereka. Pak Lantang, tampak paling tinggi di antara para murid.

Jam 18.30, ada misa ultah bersama para Yesuit dan relawan serta orang-orang yang terkait dengan misi Yesuit. Rm.Muji SJ memimpin misi dengan cukup membosankan dan membuat kantuk Fr.Aria Prabantara SJ (sekarang Rm.Tito SJ) menjadi-jadi sampai dia mengorok di samping saya… Sebenarnya saya mau nyanyikan lagu ‘Aku Kau Manja’ tapi karena tidak ada tawaran sharing saya enggan untuk mengajukan diri.

Makan besar-besaran, menunya hampir lengkap tapi tentunya jauh cita rasanya dengan Jakarta. Jangankan dibandingkan dengan ikan malas di Taipan, dengan warung makan Soto Betawi di Gondrong, pinggiran Jakarta saja sudah jauh tertinggal. Tapi sekali lagi suasana sangat menyenangkan, hanya lidah saya memang perlu penyesuaian.

Jumat, 10 September 2004
Misa di susteran AK, walau sebenarnya tidak ada misa pagi. Saya kira jam 6 kurang seperempat itu artinya 5.45 pagi, ternyata 17.45 sore di kapel KSK. Tak apalah, bisa kenalan dengan Sr.Serafica dan Sr.Bosco. Makan pagi di susteran juga dengan sederhana.

Selesai makan pagi, saya antar Pater Martin cek barang di gudang AMA. Barang lumayan terdata walau terkesan berantakan dan menyia-nyiakan banyak tempat yang demikian besar. Siang hari hujan, sehingga saya habiskan waktu di Pastoran untuk tidur karena rasanya badan kurang enak, masuk angin mungkin. Sore ini keliling kota Nabire lagi dengan motor walau cuaca masih cukup buruk karena hujan gerimis. Pokoknya saya harus kenali kota ini dengan baik.

Malam hari Pater Bas dan Sr.Theresia AK undang saya makan ikan bakar di rumah makan Kebon Sirih. Sebenarnya makanan di sini cukup enak, namun keadaan kesehatan saya kurang mendukung sehingga saya tidak bisa menikmati hidangan. Restoran ini cukup mahal untuk ukuran Nabire, ikan besar-besar dan banyak orang-orang kaya serta pejabat Nabire datang untuk macam-macam keperluan selain makan.

Sabtu, 11 September 2004

Pagi-pagi buta, dalam cuaca buruk karena gerimis, saya antar Pater Martin yang hendak berangkat ke Belogai dengan cessna. Saya lihat kesibukan di AMA, lucu juga. Persiapan penerbangan seperti persiapan memuat barang dengan colt. Siapa akan sangka bahwa penerbangan misi ini adalah penerbangan yang paling dirasakan pengaruhnya bagi daerah pedalaman.

Terlambat misa pagi di susteran beberapa menit. Bruder Sutter menyinggung tentang kemungkinan pesawat tidak akan terbang pagi ini karena cuaca buruk. Dan benar juga, siang ini Pater Martin datang bersama Pater Nato karena menurut jadwal ada pertemuan dengan Hubertus Kobepa. Banyak obrol soal ‘kemerdekaan’ buat orang papua, buat saya kemerdekaan bukan hak segala bangsa tapi hak pribadi masing-masing bukan politisasi kepentingan segelintir orang yang ingin cari uang dan jabatan. Pendirian ini dibenarkan P.Nato, yang menyambung tokoh OPM yang membangun rumah tidak jauh dari markas tentara di Enarotali. Pater Nato dan Pater Martin serta juga Bp.Hubertus Kobepa banyak cerita tentang orang-orang di tempat saya akan datang. Segala kebaikan mereka dan tentu juga stereotipe buruk yang biasa muncul.

Aneh sekali, siang ini saya dikunjungi seorang bapak dengan pakaian lusuh yang hanya dipakai beberapa pengemis paling sengsara di Jakarta, Gerardus Tigi namanya. Dia cerita bahwa kompleks misi di Bomomani adalah tanah keramat dan itu wilayah miliknya. Dugaan saya akhirnya benar, uud. Dia minta uang untuk kembali ke Bomomani, langsung saya jawab bahwa saya tidak mau kasih uang karena saya belum kenal dan walaupun sudah kenal saya merasa tidak punya cukup uang untuk diberikan pada masing-masing orang yang menjadi umat saya.

 

Minggu, 12 September 2004

Tidak ada catatan

Senin, 13 September 2004

Tidak ada seorangpun yang tahu saya ulang tahun hari ini…

Saya juga malu jika kemudian teriak-teriak: “hei gue ulang tahun nih…” dan sepertinya saya harus membiasakan diri dengan situasi ini. Semua orang agaknya sibuk dengan urusan yang lebih besar dari dirinya sendiri, misi! (Dan kemudian saya tahu bahwa kebanyakan umat saya tidak tahu kapan dia lahir dan akibatnya tidak punya kebiasaan merayakan hari kelahiran)

Sebetulnya kemarin saat room Bas undang saya makan di Kebon Sirih saya mau ngomong, wah bagusnya kalau makan-makan nanti saja saat saya ultah. Tapi namanya juga orang diundang, terima saja… atau mungkin Pater Bas ingin hari ini saya balas undang dia makan-makan, yah mana saya tahu… cuek lah ambil positifnya, dana bisa dihemat dan tidak terbuang untuk traktir orang-orang… hahaha…

Siang ini saya beli mesin cuci untuk ditaruh di pastoran KSK, Nabire. Alasannya sederhana, saya pikir Nabire tentu akan menjadi tempat transit yang akan saya sering singgahi dan kebutuhan mencuci pakaian sangat penting mengingat saya tidak bisa memberikan tugas itu kepada pembantu di pastoran, yang kelihatannya sudah repot dan ehm kurang meyakinkan… Lagipula ini juga pendekatan yang baik untuk pastor paroki Kristus Sahabat Kita, Pater Yusuf SJ. Sementara tempat tugas saya di Bomomani katanya dekat dengan Nabire, tapi saya tanya-tanya pada beberapa orang letak Bomomani tidak ada yang tahu. Ketika saya tanya Mapia mereka tunjuk deretan gunung gemunung. Hah, tahu apa mereka?

Rabu, 7 Oktober 2004 – Pesta Maria Ratu Rosario

Pagi-pagi sudah dibangungkan pastor Vincent SCJ untuk berangkat misa di Kuala Kencana, kapel St.Fransiskus. Saya diberi kesempatan misa pagi di susteran. Ini misa harian pertama setelah seminggu di paroki Tiga Raja, Timika. Suasana menyenangkan, saya kotbah tentang si Joni yang pandai main gitar lalu masuk dalam tiga kebiasaan baik berdoa rosario mengajar umat untuk biasa berdoa, setia dan sederhana.

Jam 10.15 saya berangkat ke Bandara Moses Tilangi, Timika. Akhirnya setelah menanti-nanti sampai penat di Timika saya berangkat juga ke Moanemani. Kebetulan sekali, pilot yang bertugas adalah Markus, pilot yang saya harapkan karena saya dengar dia suka membuat akrobatik udara. Ada banyak hal menarik naik cesna ke Moanemani, terutama karena Markus sangat senang mendengar saya suka akrobatik.

Akhirnya saya berjumpa dengan para pastor dan bruder yang bertugas di dekenat Kamu Mapia. Sangat menyenangkan berjumpa dengan mereka.

Senin, 11 Oktober 2004

Hari ini umat bergerak di semua wilayah Gereja. Ibu-ibu dan anak-anak bekerja di kebun, sedangkan sejumlah bapak-bapak yang tergabung dalam panitia penyambutan uskup rapat di gereja. Mereka merokok dengan santai, menggunakan rokok asli dari daun pandan dengan gaya yang unik. Rapat seperti telah diceritakan sebelumnya dilakukan dengan sangat keras seperti ada kemarahan yang diungkapkan.

Agak siang menjelang tengah hari, bapak dan ibu bersama-sama mempersiapkan upacara bakar batu. Saya membuat video yang lengkap tentang upacara itu. Lalu sekitar jam tujuh malam, terlambat satu jam dari waktu yang direncanakan, umat menyambut secara adat dengan makan bersama. Ada lima hal yang disampaikan bp. Amandus berkaitan dengan kedatangan saya: pertama, saya diterima dengan baik; kedua, agar saya bisa bekerja sama, supaya saya tidak hanya mengembangkan bagian-bagian yang bersifat rohani tapi juga yang berkaitan dengan materi. Ketiga, saya diminta untuk tidak segan-segan menegur dan mengungkapkan ketidaksenangan jika ada hal yang tidak cocok di hati. Keempat, di wilayah Mapia keadaan aman walaupun banyak tempat di Papua bergolak dan saya mendapat jaminan dari masyarakat akan dilindungi karena menyakiti saya sama saja menyakiti Tuhan sendiri. Kelima, dijelaskan tentang makhluk penunggu di pastoran yang disebutkan tidak mengganggu, sehingga saya tidak perlu khawatir.


22
Mei
11

Mission Survival, Strategi Memenangkan Jiwa-jiwa

Blog ini adalah sebuah percobaan untuk menulis sebuah kisah bagaimana misi domestik Keuskupan Agung Jakarta akhirnya terjadi di antara orang-orang Mee masyarakat pegunungan tengah, Papua.  Peristiwa pada Misa Krisma, perayaan ekaristi untuk mengkonsekrir minyak krisma, minyak katekumen dan minyak orang sakit, pada hari Kamis Putih 2011 yang lalu adalah suatu pernyataan yang meneguhkan bagi karya ini.

Tulisan ini terdiri dari beberapa judul:

  1. Awalnya…
    1. Sepenggal Jurnal harian
    2. Mapia, pedalaman yang tidak populer
  2. Roh dan Materi, Tuhan dan Uang
    1. Tubuh yang indah…
    2. Seluruh waktu habis untuk cari makan
    3. Mimpi saat ‘nonton’ kios
    4. Sidik jari umat di Gereja Batu dan Baja
    5. Misionaris telah memulai perubahan
  3. Terobosan
    1. Main dan nyanyi = aktualisasi diri orang muda
    2. Selada di pinggir kali mapia
    3. Babi Jawa
    4. Makida koma
    5. Wu Koma
    6. Ayam
    7. Truck dan Sembako
    8. Satu dari 7 Keajaiban
  4. Mundur lagi…
    1. Takhyul memunculkan bencana-bencana
    2. Terpencil dan ditinggalkan
    3. BLT
    4. Kelaparan adalah masa depan
  5. Harapan!
    1. Pater Michael dan Kopi
    2. Kuda…